Headlines News :

LANGKA

Oleh: Samsul Zakaria
 

Kira-kira apa yang membuat harga emas itu mahal? Banyak hal yang mungkin bisa menjadi jawabannya. Pertama, karena warnanya yang kuning kemilauan. Kedua, karena memiliki kadar karat. Ketiga, dan inilah yang ingin saya kupas dalam tulisan ini yaitu karena “langka”. Nilai kelangkaan emas itulah yang menjadikannya bernilai ekonomis alias mahal.
Mungkin banyak yang kemudian berkomentar, “Bukankah banyak sebenarnya emas yang ada di dunia ini?” Iya, benar sekali. Contoh nyatanya,tambang emas di Papua yang tidak ada habisnya. Namun, jika emas dibandingkan dengan hasil tambang lainnya, seperti batu bara, apalagi pasir tentu jauh lebih sedikit. Dalam konteks ini, nilai kelangkaan sebuah benda memang –juga– relatif.
Dalam konsep ilmu ekonomi, semakin banyak persediaan barang maka semakin rendah harganya. Sebaliknya, semakin sedikit barang yang dimaksudkan maka semakin tinggi harganya. Inilah yang terjadi pada emas. Tidak mudah mendapatnya. Tidak semua tempat di muka bumi “mengandung” emas. Karenanya, siapapun yang ingin memilikinya harus mengeluarkan duit yang –pastinya– tidak sedikit.
Emas juga menjadi simbol penghargaan prestasi terbaik (the first winner). Dalam sebuah pertandingan, juara pertama akan mendapatkan medali emas. Walaupun, untuk pertandingan biasa, sekadar warnanya yang kuning. Padahal, medali itu sama sekali bukan dari emas. Namun, lagi-lagi “emas” tetaplah menjadi simbol jawara. Inilah salah satu nilai “kelebihan” emas.
Dari emas, kita dapat belajar sesungguhnya. Menjadi pribadi yang “mahal” berarti harus berani menjadi seorang yang langka. Bukan hanya yang biasa-biasa. Karena yang biasa itu sudah terlalu banyak di pasaran sana. Dan jika demikian maka akan menjadi –sangat– murah harganya. Berbeda jika kita berbeda, tidak banyak yang menyamai, maka pasti harganya akan melambung tinggi.
Menjadi yang langka pastinya banyak hal yang harus disiapkan. Mulai fokus dengan expertise masing-masing. Mencoba untuk berfikir ulang, melakukan hal-hal yang baru. Ciptakan keunikan-keunikan dalam diri kita yang belum banyak orang memilikinya. Kemudian, buka fikiran, bangun silaturahmi yang baik dengan semua orang. Tujuannya, mereka juga akan tahu bahwa ada “emas” di sekitar mereka.
Ketika kita sudah mampu menjadi emas, maka jangan lupa untuk mensyukurinya. Semua itu tidak lepas dari karunia dari Allah SWT. Sebab, jika kita hanya fokus dengan “keemasan kita” maka jangan-jangan malah melupakan Sang Kuasa. Justru ketika kita menjadi emas namun tetap tunduk kepada-Nya, semakin menegaskan eksistensi “keemasan” kita. Itu yang membuat kita berbeda dengan kebanyakan orang.
Sekarang, siapkan kita menjadi orang langka? Tentu kelangkaan itu bukan karena kita mengorupsi uang negara sehingga diliput banyak media masa. Langka yang dimaksudkan adalah karena kebaikan. So, mari kembali kepada diri kita, apa yang menjadi potensi kita. Kita gali kemungkinan untuk menjadi langka sembari menengadahkan tangan kepada Sang Kuasa. Semoga kita bisa menjadi langka. Sebab, langka adalah emas. Allāhu a’lamu. []


Sumber foto: limedit.blogspot.com

PERPUSTAKAAN

Oleh: Nahlawa Fairuz Zanjabila



foto:edudemic.com
Keinginan untuk membaca itu bukan semata karena buku yang dibaca bagus. Seringkali, semangat membaca hadir karena adanya tempat yang nyaman. Lebih kongkritnya, ada fasilitas yang membuat kita merasa ‘asyik’ ketika membaca. Hal itulah yang penulis pelajari dari perpustakaan baru di kampus penulis. Perpustakaan baru, dengan wajah baru, tampilan baru, setting baru, dan segala ‘kebaru(-baru)an’ lainnya terbukti menyedot banyak pengunjung.
          Dilihat dari isi buku mungkin tidak banyak yang berbeda dengan perpustakaan lama. Namun, karena
lokasi yang strategis ditambah dengan ada embel-embel candi –anugerah Allah– ceritanya menjadi lain. Inilah yang membuat penulis semakin sadar bahwa yang terpenting itu bukan sekadar substansi (esensi). Lebih dari itu, hal-hal yang sifatnya out of essence (di luar esensi) juga penting. Sebab, logika manusia dibangun bukan untuk ‘menangkap’ isi saja tetapi apa yang mengitari isi juga.
       Maksudnya begini, membaca itu tujuannya untuk mendapatkan ilmu dari buku-buku yang bermutu. Titik poinnya berada pada isi buku. Namun, bagaimana kalau kita harus membaca di ruang yang sama sekali tidak nyaman, tidak ada unsur estetikanya, pengap, dan segenap alasan negatif lainnya? Tentu, banyak yang akan menjawab: “Lebih baik tidak membaca.” Hal ini karena dalam proses pemahaman butuh suasana yang tenang dan nyaman.
          Berangkat dari uraian di atas maka penting untuk mendesain perpustakaan dengan baik dan unik. Sehingga, siapapun yang berkunjung akan merasa betah didalamnya. Tentu, bukan betah karena tertidur pulas namun betah membaca, menambah pundi keilmuan. Konsep pelayanan yang memuaskan juga penting. Misalnya, petugas selalu siap sedia untuk membantu para pengunjung untuk mencari buku yang diinginkan dan sebagainya.
     Perpustakaan lahir sebagai apresiasi terhadap urgensi ilmu pengetahuan. Perpustakaan menjadi rujukan penting untuk menggali lebih jauh wawasan yang selama ini kita dapatkan. Betapapun demikian, lagi-lagi perpustakaan tidak cukup hanya dengan buku-buku yang berkualitas. Ia harus juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan pelayanan yang memuaskan. Dengan demikian, hadirnya perpustakaan benar-benar berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan.               
     Jika perpustakaan yang ‘oke’ sudah ada di tengah-tengah kita maka selanjutnya adalah ‘tentang kita’. Maksudnya, sudikah kita melangkahkan kaki ‘menujunya’ sebagai bagian dari usaha pencarian ilmu. Perpustakaan bukanlah monumen yang dikunjungi sekadar untuk tujuan rekreasi. Ia harus terus disambangi demi mendapatkan pengetahuan yang berharga. Dan itu semua adalah pilihan kita.
        Sejak awal, dalam agama Islam diajarkan tentang pentingnya membaca. Firman Allah SWT yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ‘perintah membaca’. Dalam konteks ini, perpustakaan hadir untuk memberi kesempatan semua orang untuk membaca. Artinya, adanya perpustakaan sebenarnya adalah aplikasi dari firman Allah. Siapapun yang terlibat di dalamnya berhak atas ‘lebel’: orang yang menghidupkan firman-Nya.
      Banyak hal yang sudah penulis ungkapkan terkait perpustakaan. Marilah kita merenung bersama bagaimana nasib perpustakaan kita ke depan. Kalau kita tidak menjaga budaya baca maka tidak ada jaminan generasi ke depan akan rajin membaca. Kalau kita tidak menyiapkan perpustakaan yang nyaman, lalu kemana anak cucu kita akan giat membaca? Mulai saat ini, pentinglah kiranya untuk memikirkan itu semua. Semoga Allah Meridhai kita. Āmīn. Allāhu a’lamu. []
               

TEMAN

Oleh: Kafa Billāh Syahīda



foto: Carles Bordon
Bagaimana jika suatu ketika ada larangan untuk menjalin pertemanan? Sungguh tidak dapat dibayangkan. Manusia sebagai makhluk sosial memang butuh teman untuk saling berbagi. Kehadiran seorang teman itu dapat melengkapi kehidupan, yang artinya tanpa teman kehidupan menjadi tidak sempurna.
          Sejak kecil mungkin kita sudah terbiasa dengan yang namanya ‘berteman’. Masih mampukan kita mengingat secara runtut siapa teman kita ketika masih balita? Kemudian, siapa saja teman kita ketika di bangku sekolah: mulai
dari SD, SMP, dan SMA? Semakin erat jalinan pertemanan kita maka semakin mudah mengingatnya. Iya, tidak?
    Seorang teman pernah berujar. “Temanmu adalah teman terakhirmu.” Teman kita sesungguhnya adalah mereka yang terakhir menjadi teman kita. Maksudnya, memang sejak kecil kita sudah memiliki teman. Namun, yang paling dekat dengan kita adalah yang paling terakhir –dan mungkin saat ini– menjadi teman kita.
       Kita memang tidak boleh melupakan romantisme pertemanan masa lalu. Namun, banyak orang yang awalnya akrab kemudian berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama. Apa yang terjadi ketika di suatu waktu mereka dipertemukan di acara tertentu? Mungkin keakraban itu akan segera bersemi kembali, namun tetap diawali dengan ‘kecanggungan’.
         Itulah yang tadi disebutkan bahwa teman kita adalah teman terakhir kita. Hal ini bukan berarti kita (boleh) melupakan teman lama. Namun, lebih dimaknai sebagai deskripsi bahwa teman terakhir lebih mampu memahami bagaimana kita. Disamping memang waktu kedekatan yang masih hangat, pastinya. Jadilah ia sebagai ‘our real friend’.
        Bagaimanapun, teman tetap memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Pepatah Arab misalnya mengatakan. “Qul ly man shāhibuka, aqul laka man anta.” Artinya, katakan kepadaku siapa temanmu maka aku akan mengerti siapa (sesungguhnya) dirimu. Pepatah ini menggambarkan betapa besarnya pengaruh teman terhadap kepribadian kita.
        Teman itu tidak selamanya berwujud makhluk yang bernyawa. Lagi-lagi merujuk pepatah Arab. “Khairu jalīsin fi az-zamani kitābun.” Artinya, sebaik-baik teman duduk sepanjang masa adalah buku. Ternyata buku dapat dimaknai juga sebagai teman kehidupan. Buku menjadi pendamping setia kita di tengah kesendirian, yang artinya ia berubah fungsi menjadi ‘teman’ kita.
             Kalau dikaitkan dengan konsepsi pertemanan, maka, “Buku kita adalah buku terakhir kita.” Tentu, hal ini dapat dirasionalisasikan dengan mudah. Bahwa buku yang paling banyak kita ingat isi dan seluk-beluknya adalah buku yang terakhir kita baca. Pasalnya, otak manusia memang terbatas dan karenanya apa yang terakhir terindra itulah yang paling banyak tersisa dalam dada –mencoba puitis, he…
          Buku itu memang laksana teman yang berwujud manusia. Buku berpengaruh terhadap model pemikiran seseorang. Jangan harap kita akan menjadi romantic man jika bacaan kita adalah buku-buku filsafat. Demi menuju ke sana maka silakan membaca buku-buku sastra dan sebagainya. Begitulah pengaruh buku dalam kehidupan sampai ada ungkapan: “Tunjukan buku apa yang Anda baca maka saya akan tahu siapa Anda.” Wow! Allāhu a’lamu. []

‘PERPISAHAN’

Oleh: Samsul Zakaria


foto: creepik.blogspot.com
Jika waktu yang telah mempertemukan kita maka –pada saatnya– waktu pula yang menjadikan kita berpisah. Tentunya, pertemuan dan perpisahan itu berkaitan erat dengan ketetapan Allah Yang Maha Kuasa. Pertemuan adalah sebuah masa dimana kita bisa bersama. Sementara perpisahan adalah pembatas kebersamaan menuju ‘kesendirian’. Pertemuan menyisakan kesan dan karenanya perpisahan menjadi sebab kesedihan.
   Mengapa kita bersedih ketika harus berpisah?
Pertama, kita merasa kehilangan orang yang kita cintai. Kedua, kebaikan orang yang meninggalkan kita begitu besar. Ketiga, untuk konteks perpisahan abadi (kematian), kita belum sempat meminta maaf dengan yang bersangkutan. Dan banyak sebab lainnya yang bisa ditambahkan. Kadang, kita baru menyadari betapa berharganya ‘ia’ setelah kita tak mampu lagi bersama dengannya.
     Pagi hari menjelang shalat Shubuh, Selasa (12/6/12), saya mendapati HP dalam keadaan berdering. Sungguh tidak biasa. Ternyata ibu yang menelfon saya. Saya angkat. Dengan setengah menangis ibu hanya berkata, “Jangan kaget ya…” Saya langsung menangkap apa maksud ibu. Seketika saya berucap, “Innalillāh…” Iya, paman saya meninggal dunia. Paman telah pergi, dan kepergiannya tidak untuk kembali lagi.
           Saya kemudian mecoba mengingat masa-masa ketika masih sempat bersama dengan paman. Sungguh, dia selalu bersikap baik dengan saya. Saya teringat ketika dulu pas saya sakit. Paman menelfon saya. Dengan isak tangis paman berdoa untuk kesembuhan saya. Dan yang membuat saya bersedih, paman pergi untuk selamanya sebelum saya berterima kasih serta meminta maaf kepadanya.
            Mungkin maut telah memisahkan antara saya –dan keluarga– dengan paman. Namun, saya yakin bahwa maut hanyalah sebuah perpindahan yang karenanya paman tidak pernah mati. Paman sedang dipanggil oleh Allah Yang Maha Adil menuju keharibaan-Nya. Semoga bekal yang disiapkan paman selama di dunia menjadi teman setia menuju pangkuan-Nya. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik buat paman.
            Itulah perpisahan yang mungkin sangat menyedihkan. Ketika kita berpisah untuk sementara waktu mungkin hal itu tidak menyisakan sedih dalam kalbu. Namun, jika perpisahannya adalah karena sebab kematian menjadi lain ceritanya. Semoga ini menjadi pelajaran bahwa maut kapan saja bisa datang menghampiri. Kedatangannya membuat kita berpisah dengan orang yang dekat dengan kita.
       Bagaimanapun, suratan takdir Allah adalah yang terbaik. Tugas paman untuk mengabdi sebagai hamba-Nya sudah usai. Waktunya bagi paman –walau harus meninggalkan keluarga yang mencintainya– untuk menghadap Ilahi Rabbi. Sekarang, waktunya berbuat baik sebagai kesiapan jika harus berpisah dari dunia dan isinya. Karena maut memang datang tanpa diduga-duga.
              Ya Allah, saya tahu bahwa, “Tiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imrān [3]: 185). Dengan ini saya ikhlaskan kepergian paman menuju keharibaan-Mu. Berikanlah maqam terbaik untuk paman. Dan sadarkanlah saya bahwa maut dapat datang secara tiba-tiba. “Allāhahumma urzuqnā as-sa’adah wa al-istiqāmah wa husnal khātimah.” Āmīn. Allāhu a’lamu. []

MENULIS

Oleh: Samsul Zakaria


menulis. (supersuga.wordpress.com)
Pernahkah kita mencoba menghitung berapa kali kita mengirimkan SMS tiap harinya? Kalau penulis pribadi, mungkin tidak terhitung. Pertama, karena memang terlalu banyak jumlahnya. Kedua, memang tidak pernah melakukan penelitian kecil-kecilan untuk menghitungnya. Namun, paling tidak layanan Short Message Service (SMS) sudah tidak asing bagi kita yang memiliki telepon genggam.
                Seringkali telepon genggam/HP digunakan untuk menulis sesuatu yang (sangat) panjang. Akhirnya, istilah
SMS berubah menjadi LMS, yaitu Long Message Service. “Sekarang ada jasa penggetikan makalah lewat HP ya, Mas/Mbak?” Komentar itu mungkin bisa dilontarkan kepada mereka yang begitu banyak (dan serius) mengetikkan kata di HP-nya.
                Ada sebuah anekdot terkait SMS. Suatu hari ada seorang Kiayi yang ditanya santrinya. “Kok Pak Kiayi sedikit-sedikit telfon sich. Kenapa tidak pakai layanan SMS saja?” Dengan (sangat) lugu Sang Kiayi menjawab, “Tulisan saya jelek. Jadi malu kalau mau SMS-an.” Cerita (fiktif) di atas adalah gambaran betapa SMS sudah menjadi bagian keseharian kita.
                Dalam kesempatan ini, penulis hanya ingin melihat ‘fenomena’ SMS dalam kaca mata netral. SMS sebenarnya adalah bagian dari aktulisasi diri melalui tulisan –terlepas dari panjang-pendeknya. Pasalnya, ketika mengetikkan kata, ada proses transmisi pesan dari syaraf otak yang akhirnya terwujudkan dalam bentuk tulisan.
                Jika demikian kondisinya masih lazimkan pernyataan, “Menulis itu susah dan semacamnya.” Kalau setiap orang setiap hari bisa mengirimkan puluhan bahkan ratusan SMS berarti menulis itu tidak susah. Menulis menjadi susah kalau yang bersangkutan membayangkannya sebagai sesuatu yang susah.
                Pertanyaannya, mengapa menulis SMS itu mudah? Iya, karena ia mengalir begitu saja, apa adanya, tanpa fikir panjang, dan menyangkut realitas kehidupan kita. Artinya, untuk memulai menulis dengan mudah adalah dengan menuliskan apa yang paling dekat dengan kita. Tuliskan apa yang terlintas dalam benak tanpa memikirkan aturan yang seringkali membelenggu kreativitas.
                Mungkin sudah banyak yang tahu siapa Trinity. Dia adalah seorang penulis perjalanan yang bergelar “The Naked Traveler”. Salah besar jika kita berekspektasi bahwa ia adalah ‘penggila’ jalan-jalan dengan bertelanjang ria. Maksud ‘The Naked Traveler’ adalah orang yang menyukai perjalanan kemudian menuliskannya dengan apa adanya, tanpa ‘tedeng’ aling-aling. Itulah yang dimaksud dengan naked ala Trinity.
                Kejujuran dan ‘apa-adanya’ Trinity dalam menuliskan kisah perjalanannya justru menjadi kekuatan tulisannya. Dengan kejujuran itu, ia dapat menuliskan pengalamannya yang mungkin ‘tidak etis’ menjadi sesuatu yang ‘lucu’ and ‘unyu-unyu’. Paling tidak, ia bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang kurang baik tersebut.
                Sekarang adalah tergantung pilihan kita, ingin menulis atau tidak. Katanya, perkataan hilang termakan usia, sementara tulisan akan abadi sepanjang masa. Mari menulis jika kita ingin sejarah menulis nama kita dalam sebuah monumen yang akan disaksikan oleh beribu pasang mata. Akhirnya, “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. al-Qalam [68]: 1). Allāhu a’lamu. []

KEGAGALAN YANG MENGHASILKAN

Oleh: Nahlawa Fairuz Zanjabīla



foto:ngururaj.blogspot.com
Dalam acara bedah bukunya, Trinity (The Naked Traveler) ditanya apakah ia pernah mengalami kegalalan dalam (perjalanan) hidupnya. Sebab, Trinity lebih banyak bercerita tentang ‘kebahagiannya’ dalam kesempatan tersebut. Sebagai seorang ‘travel writer’, tentu ia pernah bersentuhan dengan banyak pengalaman positif yang menarik plus unik. Pertanyaan tadi bisa jadi merupakan bentuk penasaran si penanya yang ingin mengetahui ‘sisi lain’ dari perjalanan Trinity.
                Cukup susah bagi Trinity untuk menyebut kegagalan dalam hidupnya. Ia terlihat sangat enjoy alias menikmati hidupnya ­­–tak kerkecuali malam itu. Itu artinya, kegagalan ­­–pastinya­­– jauh dari kehidupannya. Namun, akhirnya ia menyebut bahwa suatu ketika pernah ‘gagal’ mengunjungi daerah tertentu. Ia sudah membeli tiket. Hanya karena alasan pilitis, ia tidak diperkenankan untuk flight ke tempat tersebut.
                Itu salah satu kegagalan dalam hidupnya. Namun, sejalan dengan itu justru Trinity menganggapnya sebagai kegagalan yang menghasilkan. Pasalnya, ‘kegagalan’ tersebut menjadi angle menarik dalam tulisannya. Tulisan itu yang kemudian dicetak menjadi buku. Ketika bukunya laris-manis maka otomatis royaltinya juga bertambah. Itulah yang disebut dengan kegagalan yang menghasilkan.
                Lho, itu kan terjadi dalam dunia tulis-menulis. Lalu, bagaimana dengan dunia lainnya, yang lebih kompleks pastinya? Dalam hidup, tidak ada yang tidak mungkin. Seorang dosen misalnya pernah memberikan motivasi. Hadirnya ‘badai’ tidak selamanya dimaknai sebagai simbol ‘kegagalan’ hidup. Justru, orang kreatif (berjiwa pemenang) bisa memanfaatkan ‘badai’ itu untuk membuat ‘kincir angin’ demi kepentingannya. Inilah, badai yang menghasilkan.
                Rata-rata, keberhasilan saat ini terbangun dari keberhasilan sebelumnya. Namun, ‘jalan’ ini sudah sangat lazim alias just so so. Bagaimana jika keberhasilan itu dikontruksi dari puing-puing kegagalan? Tentu, hasilnya lebih menarik dan berkesan. Sekarang tergantung bagaimana cara kita menyikapi kegagalan. Paling tidak ­­–kata orang bijak­­– kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Iya, tidak?
                Kegagalan yang kita alami sudah semestinya memantik ghīrah untuk menjemput keberhasilan. Bukan hanya karena beranjak dari kegagalan kita menjadi berhasil. Bisa jadi ‘gagal’ itu sendiri sumber keberhasilan kita, seperti yang dicontohkan oleh Trinity. Artinya, kita dituntut untuk pintar membaca peluang dari kemungkinan terburuk yang bakal kita alami. Sebagai manusia yang dibekali akal, itu semua mungkin kita lakukan.
                Produktivitas memang tidak harus berawal dari keberhasilan. Sangat mungkin ia justru hadir karena kita terlebih dahulu mengecap kegagalan. Persoalannya adalah seberapa pintar kita memanfaatkan kegagalan. Jika kegagalan justru menghantui kehidupan dan membuat kita tak berdaya tentu sukar mengubahnya menjadi ‘keberhasilan’. Gagal dan berhasil memang dua kutub yang berlawanan. Namun, keduanya sangat mungkin disandingkan ­­–sebab malam itu selalu berdampingan dengan siang.
                Baiklah, karena usaha tak selamanya membuahkan hasil ­­–yang diharapkan­­­. Kadangkala justru berkebalikan dengan yang kita impikan. Dalam kondisi ini kita harus menyadari bahwa dari kegagalan itu kita akan mendapatkan keberhasilan. Andai sudah demikian maka inilah yang disebut sebagai “kegagalan yang menghasilkan”. Kegagalan bukan lagi bermakna peyoratif, tetapi dapat berfungsi secara aktif. Semoga! Allāhu a’lamu. []

MOTOR

Oleh: Samsul Zakaria



foto:sebuahtips.blogspot.com
Pernah tidak ada orang mengendarai motor dengan gigi persneling awal 3 atau bahkan 4? Mungkin ada, yaitu orang yang pertama kali belajar motor. Atau karena dalam kondisi jalan menurun sehingga tidak ada masalah berapapun gigi persnelingnya. Terakhir, motor matic yang tidak memiliki demarkasi gigi persneling sama sekali. Motor matic sebenarnya tidak berhak masuk dalam pembahasan ini. Sebab, ia termasuk kategori motor ‘ompong’. Iya, karena tidak bergigi tadi. Just kidding!
                Semua orang yang sudah biasa mengendarai motor faham dan tahu, ketika mulai mengemudikan motor diawali dengan gigi persneling terendah, yaitu 1 (satu). Pertama, karena ‘perjalanan’ awal itu butuh tenaga yang lebih. Kedua, agar kondisi mesin tidak mudah rontok. Selebihnya, ‘orang mesin’ tentu lebih faham. Sebenarnya, motor itu menggambarkan cara kerja kita, manusia. Lho, kok bisa? Iya, sangat bisa karena manusia juga terdiri dari organ-organ yang berfungsi sebagai mesin penggerak (motor).
                Untuk memulai sesuatu itu butuh energi yang tidak sedikit. Energi itu sebenarnya sudah tersedia dalam diri kita. Namun karena memang harus dikeluarkan dalam jumlah yang besar, banyak di antara kita yang kemudian merasa malas. Menunda-nunda untuk berbuat kebaikan adalah salah satunya. Iya, itu karena yang namanya memulai itu memang berat. Berbeda ketika perbuatan itu sudah menjadi habit (kebiasaan) maka tidak butuh banyak energi untuk mengerjakannya.
                Ketika motor sudah berjalan, pengendara bisa terus menaikan gigi perseling hingga maksimal: posisi 4 –dan 5/6 untuk motor tertentu. Ketika jalanan mulus, maka tinggal ‘tancap’ gas saja motor akan melanglang buana ke angkasa. Lho? Iya, kira-kira begitulah. Tidak butuh energi ekstra ketika motor sudah berjalan. Nah, ketika ada tikungan kita memperlambat laju kecepatan. Akhirnya, gigi persneling diturunkan kembali. Sebab, ketika kita berhenti dari ‘rutinitas’, memulainya butuh tenaga yang besar lagi.
                Tidak jauh dengan kehidupan kita sehari-hari. Membaca, misalnya. Bagi orang yang sudah terbiasa membaca, tentu tidak butuh banyak energi untuk melakukannya. Berbeda dengan orang yang ‘anti-membaca’, ketika harus membaca maka ia kudu mengerahkan segenap energi untuk melakukannya. Itu karena yang namanya memulai itu memang berat sekali. Wajar, kalau orang yang berani memulai dialah orang berhak menjadi orang yang mulia. Mulai=mulia!
                Pertama-tama, kita harus berani memulai sesuatu yang bermanfaat. Memang, awalnya butuh tenaga lebih untuk membentuk kebiasaan. Namun, ketika kebiasaan sudah terbentuk, tidak butuh banyak energi untuk konsisten dalam kebiasaan tersebut. Begitu juga, ketika di suatu ketika kita terhenti dari –atau sengaja menghentikan– kebiasaan, butuh tenaga ekstra lagi untuk memulainya kembali. Setelah berani mencoba, lalu (menjadi) terbiasa, dan terakhir jagalah konsistensinya.
                Terakhir, filosofi motor mengajarkan bahwa manusia perlu belajar dari realitas kehidupan. Termasuk belajar dari motor tadi. Motor itu buatan manusia. Sementara manusia adalah ciptaan Allah SWT. Bagaimanapun manusia tentu lebih sempurna dari –sekadar– motor. Eits, laiknya motor, ketika kita terus berjalan kadang bisa kehabisan bahan bakar (bensin). So, don’t forget to upgrade our spirit in doing the positive habit! Semoga! Allāhu a’lamu. []


                                                                                                                     

“NORMAL GETS YOU NOWHERE”

Oleh: Samsul Zakaria



foto: 3anakremaja.blogspot.com
Mari mengingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Siapa di antara teman sekelas yang paling dikenal? Pertama, orang yang paling pintar. Kedua, yang paling nakal. Ketiga, yang paling rajin. Keempat, yang paling malas. Kelima dan seterusnya adalah yang ‘paling dan paling’ lainnya. Mengapa mereka menjadi mudah dikenal? Iya, karena mereka berbeda dari kebanyakan orang. Ada nilai lebih –bahkan super(latif)–, yang melewati batas normal (standar) yang mereka miliki.
                Sejak lama penulis mengutarakan dalam berbagai forum bahwa jika ingin dikenal maka jadilah orang yang nomor satu. Sebab,
orang nomor 2 dan seterusnya itu biasanya sering dilupakan sejarah. Kita mungkin tahu –paling tidak pernah baca– bahwa Thomas Alva Edison adalah orang yang pertama kali menemukan lampu pijar. Beruntung sekali Thomas dikenal oleh orang seantero dunia. Pertanyaannya: “Siapa orang kedua yang mengembangkan lampu pijar Thomas?Hem!
                Penemuan Thomas mungkin tidak sehebat lampu yang kita temui saat ini. Namun, Thomas sudah mengawali penemuan yang dahulu orang belum sempat memikirkannya. Thomas mencoba berfikir berbeda, tidak puas dengan kondisi yang ia alami. Dan beruntungnya, ia menjadi orang pertama yang menemukan lampu pijar itu. Sehingga, sejarah dunia akhirnya mencatatnya sebagai orang yang berjasa terhadap perkembangan peradaban manusia.
                Konon, kata orang Arab, jika ingin terkenal maka kencingilah air zam-zam. “Bul zam-zam tu’raf,” begitu bunyi peribahasanya. Seringkali untuk menjadi terkenal itu tidak butuh prestasi. ‘Keanehan’ yang kita lakukan, walaupun melanggar norma (aturan) bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan kita kepada dunia. Mengencingi zam-zam adalah salah satunya. Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada yang berani melakukannya.
                Tentu, penulis tidak menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang negatif untuk menjadi terkenal. Namun, begitulah realitanya bahwa yang berbeda (tidak normal) itu yang akan ‘kemana-mana’. Orang yang hidupnya datar-datar saja mungkin tidak menemui banyak masalah. Apalagi jika yang bersangkutan ‘enjoy’ terhadap ‘kedatarannya’ itu. Namun, apa kesan unik dalam hidup jika kehidupan kita hanya datar-datar saja.
                Bertahan dengan kenyamanan yang sudah didapatkan memang pilihan yang aman. Tetapi mencoba untuk keluar mencari sesuatu yang berbeda adalah sebuah tantangan kehidupan. Bagi orang suka dengan zona aman, pasti tidak mau mengambil risiko. Namun, bagi yang ingin hidupnya berkesan, risiko justru menjadi pemantik untuk mendapatkan pengalaman baru. “Gagal dalam mencoba hal baru lebih baik daripada untuk mencoba saja gagal.” Iya tidak?
                Keluar dari zona normal memang butuh fikiran yang kreatif. Oleh karena itu, kita harus siap untuk berfikir berbeda. Jika kita hanya berfikir yang biasa-biasa saja maka hasilnya pun akan demikian. Stagnasi kehidupan itu bermula dari kenormalan yang kita pertahankan. Itulah mengapa, normal gets you nowhere, sesuatu yang biasa hanya membawa Anda ke tempat yang sama. Hidup kok maunya yang biasa-biasa. Ah, kalau penulis ‘no’. Allāhu a’lamu. []

PASSION

Oleh: Samsul Zakaria



Bagaimana rasanya mengerjakan sesuatu bukan karena cinta? Alih-alih menikmati pekerjaan tersebut, justru yang didapat adalah perasaan terpaksa dan segudang ‘kegalauan’ lainnya. Inilah pentingnya ‘passion’ dalam beraktivitas (bekerja). Sebab, kecintaan kita terhadap pekerjaan memacu (hormon) adrenalin untuk ‘total’ dalam bekerja. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi ‘our passion’?
                ‘Passion’ memang sebuah istilah yang –kelihatannya– kebarat-baratan. Hal ini tidak lepas dari kegemaran kita untuk mengimpor istilah asing. Well, bagi penulis pribadi perkara ini tidaklah menjadi masalah berarti. Toh, dengan begitu
kosakata kita menjadi semakin kaya. ‘Just take the positive side’ aja dech. So, ‘passion’ itu erat kaitannya dengan ‘tagline’ tayangan humor gombal di televisi itu lho. Iya, passion is about heart and love.
                Penulis mencoba berselancar untuk mencari makna ‘passion’. Penulis tampilkan arti ‘passion’ urutan pertama dari: http://www.artikata.com/arti-133588-passion.html. ‘Passion” diartikan dengan ‘a strong feeling or emotion’. Ringkasnya, ‘passion’ adalah perasaan dan emosi yang kuat terhadap sesuatu. Mungkin juga berarti ‘chemistry’, seberapa erat keterikatan emosional kita dengan pekerjaan yang kita jalani.
                Penulis pernah mengikuti acara “bookreview” yang diselenggarakan oleh stasiun radio milik pemerintah. Hadir dalam acara tersebut Trinity, seorang penulis perjalanan yang memiliki label ‘naked traveler’. Ia bercerita tentang kisah hidupnya yang awalnya hanyalah seorang karyawan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang ‘travel writer’ dengan segala konsekuensinya.
                Karyawan dengan (pe)kerjaan dan gaji yang tetap memang ‘mengenakkan’. Buktinya, banyak orang yang berebut untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Namun, bagi Trinity, menjadi karyawan bukanlah ‘passion’-nya. Sejak kecil ia sudah hobi jalan-jalan. Itulah mengapa kemudian ia memilih untuk beraktivitas sesuai dengan ‘passion’-nya. “Follow your passion and the success will follow you,” nasihatnya.
                Banyak orang yang sukses secara materi namun secara pribadi ia tidak menukmati kesuksesannya tersebut. Bisa jadi itu terjadi karena yang bersangkutan sukses dalam bidang yang bukan ‘passion’-nya. Ia bekerja bukan pada kecintaan dan ‘expertise’-nya yang sesungguhnya. Itulah mengapa, ketika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka kehancuran berada di depan mata.
                Kembali ke pertanyaan di atas, apa yang sebenarnya menjadi ‘our passion’? Jawabannya: relatif. Kalau mau yang subyektif, yang lebih tahu adalah diri kita sendiri. Sementara yang obyektif biasanya orang lain (liyan) lebih tahu. Namun, bagaimanapun yang lebih berhak tahu tentang diri kita tiada lain adalah diri kita sendiri. So, mulai sekarang mari sama-sama untuk ‘look in’ diri kita masing-masing.
                Dengan mengenal diri maka kita akan tahu dimana ‘passion’ kita. Apakah kita harus rela menerima apa yang selama ini sudah menjadi keseharian kita? Padahal itu tidak sesuai dengan ‘passion’ kita. Jika memang demikian kondisinya, toh tidak (ber)dosa kita beralih jalur asalkan itu sesuai dengan ‘our passion’. “Risiko terbesar dalam hidup adalah ketika kita tidak berani mengambil risiko sama-sekali,” tutur Trinity. Allāhu a’lamu. []

MEMULIAKAN AL-QUR’AN

Oleh: Samsul Zakaria



foto: ipoelhuda.blogspot.com
Mari berhitung: “Berapa jumlah Al-Qur’an yang ada di rumah kita?” Penulis yakin bahwa tiap rumah paling tidak memiliki satu buah Al-Qur’an. Bahkan, kebanyakan lebih dari satu. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah berapa banyak Al-Qur’an –yang rata-rata lebih dari satu– tersebut dibaca setiap harinya? Atau Al-Qur’an hanya sekadar ‘pajangan’, diletakkan di etalase laksana museum, dan untuk mengusir makhluk halus (saja)?
                Ramadhan tidak lama lagi datang. Di bulan itu, ‘tadarus’ Al-Qur’an sangatlah marak. Dapat dikatakan, masjid dibanjiri oleh bacaan Al-Qur’an. Rumah-rumah pun dihiasi oleh qiraah Al-Qur’an. Benarkah bahwa
Al-Qur’an hanya diperintahkan untuk dibaca pada bulan Ramadhan saja? Katanya, Ramadhan adalah preseden (miniatur) dari 11 bulan selanjutnya. Berarti membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya di bulan Ramadhan an sich.
                Al-Qur’an adalah kitab suci yang ketika dibaca akan mendatangkan pahala. Ini adalah sebuah motivasi tersendiri bagi umat Islam untuk gemar membaca Al-Qur’an. Ketika iklim kegemaran ini sudah terbangun maka pada konteks yang lebih dalam, kita tidak (perlu) memikirkan lagi yang namanya pahala. Membaca Al-Qur’an lebih dirasakan sebagai kebutuhan, laksana makan dan minum yang kita lakukan setiap hari.
                Perintah Rasulullah untuk membaca Al-Qur’an sudah sangat jelas. Mereka yang (gemar) membaca Al-Qur’an akan didatangi Al-Qur’an di akhirat kelak untuk mendapatkan syafaat. Sebab, Al-Qur’an adalah kalam Ilahi: visualisasi ‘kalam’ Allah di muka bumi. Membaca Al-Qur’an adalah bagian dari cara berkomunikasi dengan Allah SWT. Semakin banyak membaca, maka semakin dekat dengan-Nya. Tentu, pertolongan-Nya semakin dekat pula.
                Allah memang berjanji akan menjaga Al-Qur’an (QS. al-Hijr [15]: 9). Hem, tapi jangan lupa bahwa Allah menggunakan kata ganti (dhamīr) ‘nahnu (نَحْنُ)’ (kami) dalam ayat tersebut. Sudah maklum bahwa maknanya adalah Allah tidak turun untuk menjaga Al-Qur’an secara langsung. Ada intervensi makhluk-Nya dalam konteks penjagaan Al-Qur’an. Dan dalam hal ini, kita dapat melibatkan diri.
                Al-Qur’an adalak mu’jizat sepanjang masa. Ia bukanlah tanda kenabian yang sukar dinalar sebagaimana lazimnya mu’jizat para nabi sebelum Rasulullah. Al-Qur’an justru hadir dalam bentuk yang konkrit, dimana rasionalitasnya sangat mungkin dinalar oleh logika kemanusiaan. Sebagai mu’jizat, umat Islam selaiknya terus melestarikan ‘kelanggengan’ Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
                Kita sadar bahwa Al-Qur’an memang tidak cukup hanya sekadar dibaca. Al-Qur’an harus dipelajari secara mendalam dan konfrehensif. Namun, paling tidak ketika usaha yang semestinya tidak dapat dilakukan maka ‘standar minimal’ jangan sampai ditinggalkan. Membaca Al-Qur’an adalah cara untuk melestarikan Al-Qur’an. Dengan membaca, keterikatan umat dengan kitab suci semakin erat.
                Semoga kita semakin sadar bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya sekadar menjadi ‘pajangan’. Iya, Al-Qur’an memang harus dimuliakan. Jika Al-Qur’an adalah kitab Allah, maka memuliakan Al-Qur’an adalah salah satu cara untuk memuliakan Allah. Yuk, mari bersama-sama memuliakan Al-Qur’an. Tentu, kita sudah faham bagaimana caranya. Allāhu a’lamu. []

MUALLAF

Oleh: Samsul Zakaria


foto:irfanirsyad.wordpress.com
             Pertama-tama, Islam (harus) diintroduksi sebagai agama yang tidak menghendaki paksaan (ikrāh). Maknanya, Islam tidak akan memaksa umat agama lain untuk memeluk agama Islam. Memeluk agama lebih kepada perihal ‘hidayah’ dari Allah SWT –yang karenanya umat Islam tidak berhak untuk memaksa seseorang untuk mengubah keyakinannya. Namun, untuk sekadar berdakwah dengan cara yang baik hal itu boleh-boleh saja –bahkan dianjurkan.
Betapapun demikian,
memaksa seseorang yang sudah beragama Islam untuk tetap berpegang erat dengan ajarannya tidak masuk dalam pemahaman “la ikrāha fi ad-dīn”. Artinya, ‘memaksa’ seorang untuk tetap beragama Islam, dalam artian tidak mengonversi agamanya ke agama lain, adalah hal yang dibolehkan. Pasalnya, hal ini mengandung nilai kemaslahatan dan sangat wajar.
Islam tentu sangat respek (peduli) dengan hadirnya banyak orang yang berikrar setia untuk menjadi bagian jamaah besar, kaum muslim. Belakangan, khususnya di Barat, memang sedang nge-trend yang namanya konversi agama (ke agama Islam). Merekalah yang dalam Islam di sebut dengan ‘muallaf’. Secara bahasa ‘muallaf’ berarti ‘orang yang dilunakkan hatinya’.
Namun, dalam konteks kekinian ‘muallaf’ tidak sekadar dimaknai orang yang dilunakkan hatinya. ‘Muallaf’ dimaknai lebih luas (general). Menyebut ‘muallaf’ berarti bermaksud untuk mentioning semua orang yang baru (saja) masuk Islam. Sebenarnya, penyebutan ‘muallaf’ dengan makna ‘yang dilunakkan hatinya’ bukan tanpa alasan. Mereka memang perlu dijabat-erat agar tidak tergoyahkan kembali keyakinannya.
Tentu, kisah pencarian Tuhan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS sudah banyak diceritakan. Betapa Nabi Ibrahim AS sangat rasional dalam mencari Tuhan. Mulai dari ‘menuhankan’ bintang, bulan, hingga matahari. Namun, bagi Nabi Ibrahim AS, Tuhan tidak mungkin bersifat sementara: hadir di suatu waktu, dan hilang di waktu yang lain. Tuhan haruslah eksis dalam kondisi apapun.
Akhirnya, Nabi Ibrahim AS sampai kepada Tuhan yang sesungguhnya. Dialah Allah yang Menciptakan langit dan bumi. Eksistensi Allah tidak terbatasi ruang dan waktu. Sebab, kekuasaan Allah meliputi segala sesuatunya. Ada sebuah pernyataan menarik terkait hal ini. “Allah memang tidak nampak secara kasat mata. Namun, masuk akalkah jika kita masih mencari ruangan jika kita sudah berada di ruangan tersebut?
Penulis hanya ingin mengatakan bahwa ‘muallaf’ yang sejati adalah mereka yang sampai kepada (ke)simpulan bahwa Tuhan itu hanyalah Allah SWT. Simpulan itu ia dapatkan karena proses pencarian yang ia lakukan, bukan karena ajakan dari orang lain. Dengan demikian, keimanannya ketika memeluk agama Islam sangatlah kuat. Hal ini karena, apa yang diyakini adalah muara pencarian yang sudah final dan berkesudahan.
Tentu, penulis tidak bertendensi bahwa ‘muallaf’ yang masuk Islam karena ajakan itu tidak baik. Itu juga tidak bermasalah karena umat Islam memang memiliki kewajiban berdakwah, menyampaikan yang hak (al-haqq). Dan Islam sungguh sangat memperhatikan ‘nasib muallaf’. Mereka, meskipun kaya tetap berhak mendapatkan zakat (QS. at-Taubah [9]: 60) untuk penguatan iman mereka. Sungguh, luar biasa Islam itu! Allāhu akbar! Allāhu a’lamu. []

KEBUN ABADI

 Oleh: Samsul Zakaria

          Bagaimana perasaan kita ketika mengunjungi kebun yang rindang nun asri? Tentu, suasana kebun tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri dalam kalbu. Sebagai insan beragama, sebaiknya –dalam situasi tersebut– kita mengucapkan tahmīd (subhanallāh) kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kebun yang ada di hadapan kita adalah visualisasi keindahan (jamaliyah) Tuhan di alam semesta.
                Berbicara masalah kebun, penulis teringat
kampung halaman. Berkebun adalah aktivitas harian para penduduk yang tinggal di desa penulis. Ketika musim panen tiba, tidak sedikit pendatang datang: turut andil memanen ‘kopi’. Itulah kondisi kebun di kampung penulis yang pastinya berbeda dengan ‘kebun abadi’. ‘Kebun abadi’ hanya bisa dipanen oleh empunya, tidak untuk yang lainnya.
                Dunia diibaratkan sebagai ladang –mungkin juga maksudnya ‘kebun’– untuk menanam bekal. Bekal itu yang kemudian menjadi ‘persediaan’ ketika kita hidup di alam yang kekal alias abadi. Kebaikan yang terus kita tanam maka kebaikan pula yang akan kita petik. Jika sebaliknya, maka ‘petaka’ yang akan kita tuai nantinya. Ringkasnya, ‘keadaan’ kebun dunia adalah miniatur ‘keadaan’ kebun akhirat.
                Orang Jawa memisalkan kehidupan sebagaimana pulangnya seseorang dari pasar. Dunia penuh dengan kesementaraan. Durasi waktu yang sekarang (mungkin) terasa –begitu– lama, sesungguhnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan di ‘kebun abadi’ nantinya. Namun, ternyata kita masih sering terlena dalam kesementaraan ini.
                Kebun adalah tempat dimana para petani bercocok tanam. Berdasarkan pemahaman ini, kita laksana ‘para petani’ yang bebas menanami kebunnya masing-masing. Tidak ada aturan yang sifatnya memaksa dalam hal penanaman. Namun, lagi-lagi pilihan menyisakan konsekuensi. Setiap tanaman akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk tanaman kita di kebun dunia.
                Dunia penuh dengan intrik dan tipu daya. Itu semua adalah keniscayaan yang memang disiapkan untuk menguji kadar ketangguhan kita. Kita mungkin sudah menanam benih yang ‘super’ di ladang. Tapi, karena rayuan, kita menjadi goyah. Akhirnya, benih yang sudah mulai ditumbuh diganti dengan benih yang baru. Padahal, benih yang kedua tidak lebih baik dari yang pertama –atau bahkan berkebalikan 180 derajat.
                Sudah saatnya kita menyadari kepastian hadirnya ‘kebun abadi’. Kebun yang memiliki gerbang yang dijaga oleh malaikat. Disanalah kita akan hidup selamanya. Nasib kita di sana ditentukan oleh suasana kebun kita yang sementara, di dunia ini. Siapkah kita menyiapkan ‘romantisme’ kebun dunia untuk menggapai ‘romantisme’ kebun akhirat?
Pertanyaannya, apa yang sudah kita tanam ‘di sini’ sebagai bekal untuk hidup ‘di sana’, di kebun keabadian? Andai bibit kebaikan yang kita tanam, semoga atas rahmat-Nya, ia tumbuh subur. Jika ternyata ia berupa benih keburukan, semoga bersama keinsyafan kita kepada-Nya, ia akan terkubur. Allāhu a’lamu. []



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MENGISLAMKAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger